JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – PSSI tengah mempersiapkan turnamen pramusim sepak bola putri yang rencananya akan diikuti oleh empat klub. Langkah ini menjadi awal kebangkitan kompetisi sepak bola putri di Indonesia setelah vakum sejak Liga 1 Putri terakhir digelar pada 2019.
Anggota Komite Eksekutif PSSI, Vivin Cahyani Sungkono, menyebut bahwa federasi sudah mengarahkan kepada klub-klub besar seperti Persija Jakarta, Persib Bandung, Dewa United, dan Persita Tangerang untuk menjadi peserta. Namun, kesiapan klub masih perlu dikonfirmasi.
“Insyaallah bisa dilakukan, tinggal konsolidasi dengan klub dan PT LIB. Kita juga harus menyesuaikan dengan kesiapan masing-masing klub,” ujar Vivin di sela acara pengenalan Law of The Game di Jakarta, Rabu (17/7).
Vivin menegaskan, PSSI tidak ingin mengulang kegagalan kompetisi sebelumnya yang sempat berjalan namun tidak berkelanjutan. Oleh karena itu, turnamen akan dimulai dari skala kecil dan bertahap, memperhatikan dukungan sponsor dan operator liga.
“Kita mulai dari yang kecil dulu. Kalau langsung bicara 16 atau 18 klub, itu bisa jadi masalah. Tapi kalau empat dulu, saya pikir tidak ada persoalan talent pool,” katanya.
Menurut Vivin, Indonesia memiliki cukup banyak pemain putri berbakat. Selain dari timnas, pemain diaspora dan bahkan pemain asing di luar negeri mulai tertarik bermain di Indonesia.
“Talent pool untuk empat klub sudah cukup. Kita bisa ambil dari pemain timnas yang tidak masuk starting line-up, pemain diaspora, bahkan pemain asing dari Belanda atau Jepang yang ingin bermain di sini,” jelasnya.
Jika turnamen ini mendapat respons positif dari publik dan sponsor, PSSI membuka peluang untuk memperluas format kompetisi pada musim-musim berikutnya.
Vivin juga menanggapi soal regulasi AFC yang mendorong klub profesional memiliki tim putri. Menurutnya, regulasi tersebut belum sepenuhnya diwajibkan bagi klub Asia Tenggara.
“Kami sudah berkoordinasi dengan AFC. Regulasi soal tim putri dalam club licensing lebih bersifat imbauan, belum terlalu ditegakkan secara ketat,” tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa di beberapa negara Asia Tenggara seperti Filipina, Myanmar, dan Thailand, tim putri tidak selalu menyatu dengan klub Liga 1, dan bisa saja mewakili provinsi atau entitas berbeda.
“Yang penting adalah kontinuitas dan keseriusan dalam membangun ekosistem sepak bola putri ke depan,” pungkas Vivin. (rdr/ant)





