BERITA

Ekonom Indef: Perang Iran-Israel Bisa Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia dan Tekan APBN

0
×

Ekonom Indef: Perang Iran-Israel Bisa Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia dan Tekan APBN

Sebarkan artikel ini
Sejumlah rudal serangan balasan Iran terlihat melintas di atas kota Hebron di Tepi Barat, Israel (13/6/2025). ANTARA/Xinhua/Mamoun Wazwaz/aa.

JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eko Listiyanto, memperingatkan bahwa harga minyak dunia berpotensi naik tajam apabila konflik militer antara Iran dan Israel terus berlarut.

“Jika perang ini berlangsung lama, tren harga minyak dunia hampir pasti akan naik. Sekitar 20 persen konsumsi minyak global melewati Selat Hormuz. Gangguan di jalur ini akan menyulitkan distribusi global dan memicu lonjakan harga serta inflasi dunia,” kata Eko di Jakarta, Senin (23/6).

Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis yang mengalirkan hampir sepertiga pasokan minyak mentah global. Ketegangan meningkat tajam setelah pada Minggu (22/6), Parlemen Iran menyetujui usulan penutupan Selat Hormuz sebagai respons terhadap serangan Amerika Serikat (AS) ke fasilitas nuklir Iran.

Keputusan akhir penutupan selat tersebut kini menunggu pengesahan dari Dewan Keamanan Tertinggi Nasional Iran.

Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa militer AS telah menyerang tiga fasilitas nuklir Iran yang terletak di Fordow, Natanz, dan Isfahan. Serangan ini menyusul eskalasi konflik yang dimulai sejak 13 Juni, ketika Israel, dengan dukungan AS, melancarkan serangan militer ke sejumlah target strategis di Iran, yang kemudian dibalas oleh Tehran.

Eko menambahkan, dampak konflik ini akan merembet ke Indonesia, khususnya terhadap anggaran subsidi energi. Namun, untuk saat ini, risiko masih terkendali.

“Per Jumat (20/6), harga minyak global masih sekitar 77 dolar AS per barel, sementara asumsi harga dalam APBN 2025 dipatok pada 82 dolar per barel,” jelasnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa jika konflik terus berlangsung dan harga minyak terus naik, maka beban subsidi dalam APBN bisa membengkak dan mengganggu daya dukung fiskal.

“Kalau berkepanjangan, harga minyak dan energi lainnya bisa ikut naik. Dampaknya akan terasa pada daya dukung APBN, terutama untuk subsidi energi,” ujar Eko.

Sebagai langkah mitigasi, menurutnya, pemerintah harus fokus meningkatkan efektivitas anggaran dan menjaga daya beli masyarakat.

“Kalau dari sisi domestik masih ada permintaan yang kuat, ekonomi bisa tetap bertahan,” tutupnya.

Mengutip laporan Anadolu Agency, Selat Hormuz menangani hampir 15 juta barel minyak mentah per hari, atau sekitar sepertiga dari total perdagangan minyak global. (rdr/ant)