BERITA

Iran Ancam Lanjutkan Serangan hingga Israel Hancur Total, Balas Serangan ke Fasilitas Nuklir

0
×

Iran Ancam Lanjutkan Serangan hingga Israel Hancur Total, Balas Serangan ke Fasilitas Nuklir

Sebarkan artikel ini
Arsip Foto - Bendera Iran terlihat di markas besar PBB di New York, AS, Rabu (8/1/2020). ANTARA/Xinhua/Li Muzi/am/aa.

TEHERAN, RADARSUMBAR.COM – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), unit elite militer Iran, menegaskan bahwa operasi militer terhadap Israel akan terus berlanjut hingga “kehancuran total rezim Zionis.” Pernyataan ini disampaikan IRGC pada Senin (16/6/2025), menyusul meningkatnya eskalasi militer antara kedua negara.

“Operasi True Promise III dan operasi-operasi berikutnya akan lebih dahsyat, lebih tepat sasaran, dan lebih merusak daripada sebelumnya,” ujar IRGC dalam pernyataan resminya.

Mereka juga memperingatkan negara-negara pendukung Israel, bahwa “operasi yang efektif, terarah, dan menghancurkan terhadap target-target penting rezim ini akan terus berlanjut hingga kehancurannya.”

Pernyataan keras ini merupakan respons langsung terhadap serangan besar-besaran Israel pada malam 13 Juni lalu. Dalam operasi bertajuk Rising Lion, Angkatan Udara Israel menggempur sejumlah target strategis di Iran, termasuk fasilitas program nuklir serta basis militer di beberapa wilayah, termasuk Teheran.

Serangan itu menewaskan sejumlah pejabat senior militer Iran, termasuk Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata, komandan IRGC, dan beberapa ilmuwan nuklir. Fasilitas nuklir utama Iran seperti Natanz dan Fordow juga dilaporkan menjadi sasaran serangan.

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyebut serangan tersebut sebagai tindakan kriminal. Dalam pidatonya kepada rakyat Iran, Khamenei memperingatkan bahwa Israel akan menghadapi “nasib yang pahit dan mengerikan.”

Sebagai balasan, Iran meluncurkan operasi militer True Promise III yang menyasar instalasi militer di wilayah Israel, sebagai bentuk pembalasan atas serangan tersebut.

Ketegangan antara Iran dan Israel saat ini berada pada titik tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, dengan potensi konflik regional yang lebih luas jika eskalasi tidak segera dikendalikan. (rdr/ant/sputnik-oana)