HIBURAN

Film “GJLS: Ibuku Ibu-Ibu”, Komedi Absurd yang Sentil Realita Anak Muda Zaman Now

0
×

Film “GJLS: Ibuku Ibu-Ibu”, Komedi Absurd yang Sentil Realita Anak Muda Zaman Now

Sebarkan artikel ini
Produser eksekutif film "GJLS: Ibuku Ibu-Ibu" Indra Yudhistira saat pemutaran terbatas film di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (3/6/2025). (ANTARA/Abdu Faisal)

JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Pemuda kerap dielu-elukan sebagai tulang punggung bangsa. Namun bagaimana jadinya jika “tulang punggung” tersebut justru rapuh karena lilitan utang pinjaman online, candu judi daring, dan persoalan moral seperti kehamilan di luar nikah?

Pertanyaan sinis ini dijawab lewat pendekatan komedi absurd dalam film terbaru karya Monty Tiwa berjudul “GJLS: Ibuku Ibu-Ibu”, yang akan tayang di bioskop mulai 12 Juni 2025.

Film ini adalah debut layar lebar trio komika GJLS — Rigen Rakelna, Hifdzi Khoir, dan Ananta Rispo — yang mengusung gaya mumblecore, genre film independen dari AS yang menonjolkan improvisasi, realisme, dan kekacauan yang terasa autentik.

Film ini dibuka dengan kisah Tyo (Bucek Depp), juragan kos yang baru ditinggal wafat istrinya. Namun momen duka itu berubah jadi peluang absurd bagi ketiga anaknya — Rigen, Hifdzi, dan Rispo — untuk melobi sang ayah menjual aset demi menutup masalah pribadi mereka.

Rigen kehilangan mobil bos EO yang ia pinjam, Hifdzi harus segera menikahi pacarnya yang hamil, dan Rispo dikejar debt collector akibat judi online.

Namun yang tak mereka duga, sang ayah justru membuat keputusan mengejutkan: menikahi Feni (Nadya Arina), SPG muda penghuni kos. Lebih mengejutkan lagi, kos-kosan itu akan diwariskan ke Feni. Trio GJLS pun curiga dan merancang berbagai sabotase konyol untuk menggagalkan rencana ayah mereka.

Kekacauan semakin liar ketika muncul Sumi (Luna Maya), mantan cinta Tyo yang turut masuk dalam pusaran komedi ini.

Film ini menonjol lewat improvisasi liar, penyisipan bloopers dalam narasi utama, hingga interaksi karakter dengan sutradara secara langsung — sebuah pendekatan meta yang lebih ekstrem dari teknik breaking the fourth wall.

Sutradara Monty Tiwa, yang telah 25 tahun berkecimpung di industri film, menyebut gaya ini sebagai eksperimen baru. “Saya sendiri tidak tahu teori apa ini,” ungkapnya dengan nada setengah serius.

Meski terlihat kacau, struktur cerita tetap terjaga berkat penyuntingan yang rapi dan dialog punchline yang segar. Film ini juga membawa istilah baru: “scientific comedy” — humor dengan rumus tersendiri yang dianggap bisa dipelajari dan diracik layaknya sains.

Selain GJLS dan Bucek Depp, film ini diperkuat oleh aktor seperti Umay Shahab, Reynavenzka Deyandra, Maxime Bouttier, serta Muhammad Kadavi yang memerankan tokoh dengan kondisi bibir sumbing, menambah warna unik dalam cerita.

Musik latar juga memainkan peran penting, termasuk lagu tema dangdut “Feromon” yang dinyanyikan Bucek dan Nadya Arina, serta soundtrack “Akhir Awal” karya Gusti Irwan Wibowo.

Eksekutif produser Indra Yudhistira, yang dikenal sebagai tokoh penting di balik kebangkitan Stand Up Comedy Indonesia, turut mendukung proyek ini.

Menurut Ananta Rispo, GJLS berharap bisa mengikuti jejak Dono, Kasino, Indro, tak hanya sebagai ikon lawak, tapi juga melalui konsistensi karya film.

Di tengah geliat perfilman nasional pasca-kesuksesan film animasi “Jumbo”, kehadiran mumblecore ala lokal ini menunjukkan bahwa selera humor Indonesia makin beragam dan terbuka terhadap pendekatan baru. (rdr/ant)