BERITA

Jelang Puncak Haji, 203 Ribu Jamaah Indonesia Masuki Masa Tenang di Makkah

0
×

Jelang Puncak Haji, 203 Ribu Jamaah Indonesia Masuki Masa Tenang di Makkah

Sebarkan artikel ini
Kepala BPOM Taruna Ikrar (kedua kiri) berdialog dengan petugas layanan kesehatan haji Indonesia di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah, Arab Saudi, Sabtu (31/5/2025). (ANTARA FOTO/ANDIKA WAHYU)

MAKKAH, RADARSUMBAR.COM – Sebanyak 203.149 jamaah haji reguler Indonesia dari 525 kelompok terbang (kloter) telah tiba di Makkah dan kini memasuki masa tenang untuk mempersiapkan diri menghadapi puncak ibadah haji.

“Seluruh jamaah haji Indonesia kini telah berada di Kota Makkah dalam keadaan aman dan sehat,” ujar Sekjen Kementerian Agama (Kemenag) Kamaruddin Amin di Makkah, Ahad (1/6).

Puncak haji dimulai dengan pemberangkatan ke Arafah pada 8 Dzulhijah 1446 H (4 Juni 2025). Kemenag mengimbau jamaah untuk fokus menjaga kondisi fisik dan mental menjelang fase puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

Kamaruddin mengingatkan jamaah agar mengurangi aktivitas di luar hotel, cukup beristirahat, menjaga kebersihan, dan banyak minum air putih.

Layanan Bus Shalawat dihentikan sementara sejak Minggu dan akan kembali beroperasi pada Selasa, 14 Dzulhijah (10 Juni 2025) pukul 00.00 WAS. Jamaah diminta beribadah di hotel masing-masing dan tidak keluar kecuali untuk keperluan mendesak.

Menjelang puncak haji, layanan katering hotel diganti dengan makanan siap saji sebanyak enam kali makan. Distribusi dilakukan bertahap pada 3 Juni (3 kali makan), 4 Juni (1 kali makan), dan 9 Juni (2 kali makan).

“Makanan dapat langsung dikonsumsi. Nasi sebaiknya direndam air 5–10 menit, lauk bisa dimakan tanpa dipanaskan. Setelah dibuka, makanan tidak boleh disimpan ulang demi kesehatan,” jelas Kamaruddin.

Saat puncak ibadah di Armuzna, jamaah juga akan mendapat 15 kali makan dan 1 snack berat, yang terdiri dari:

  • 5 kali makan di Arafah
  • 1 snack berat di Muzdalifah
  • 10 kali makan di Mina

Skema Murur dan Tanazul Atasi Kepadatan

Kemenag menerapkan dua skema pergerakan jamaah untuk menghindari kepadatan di Muzdalifah dan Mina, yaitu Murur dan Tanazul.

  • Murur: Jamaah lansia, disabilitas, dan yang uzur akan melintas Muzdalifah tanpa turun dari bus, langsung menuju Mina. Sekitar 50.000 jamaah dijadwalkan mengikuti skema ini.
  • Tanazul: Sekitar 30.000 jamaah dari sektor Syisyah dan Raudhah akan dipulangkan lebih awal ke hotel di Makkah setelah lempar jumrah aqabah. Mereka tidak kembali ke tenda Mina setelah tanggal 11–13 Dzulhijah.

“Langkah ini diambil untuk memastikan kenyamanan dan kelancaran ibadah jamaah selama masa puncak,” kata Kamaruddin. (rdr/ant)