KESEHATAN

Jamu Bukan Sekadar Ramuan, tapi Filosofi Keseimbangan Tubuh dan Alam

0
×

Jamu Bukan Sekadar Ramuan, tapi Filosofi Keseimbangan Tubuh dan Alam

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi teh jahe (Shutterstock/akepong srichaichana)

JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), Inggrid Tania, menegaskan pentingnya memahami jamu sebagai filosofi kehidupan yang menekankan keseimbangan tubuh dan harmoni dengan alam, bukan sekadar ramuan herbal.

“Jamu itu konsepnya balance and harmony. Ia membantu menyeimbangkan sistem tubuh dan menciptakan harmoni dengan lingkungan sekitar,” ujar Inggrid dalam acara Peringatan Hari Jamu Nasional yang digelar secara daring, Minggu (26/5).

Inggrid menjelaskan bahwa jamu merupakan warisan budaya yang sarat nilai kearifan lokal. Ia mencontohkan berbagai jamu gendong tradisional seperti kunyit asam, beras kencur, cabe puyang, pahitan, kunci suruh, dan sinom yang memiliki manfaat besar, terutama untuk menjaga kesehatan sistem pencernaan.

“Kunyit asam bermanfaat untuk meredakan keluhan menjelang menstruasi, sementara sinom efektif meningkatkan fungsi pencernaan. Adapun jamu pahitan membantu mengatasi perut begah dan kurang nafsu makan,” jelasnya.

Inggrid juga menyoroti madu sebagai bahan alami dari hewan yang kaya manfaat untuk saluran cerna. “Madu mengandung antioksidan, anti-inflamasi, dan viskositas tinggi yang dapat melindungi mukosa lambung. Sangat efektif bagi penderita gastritis, GERD, hingga tukak lambung,” katanya.

Ia merekomendasikan kombinasi madu dan kunyit sebagai solusi alami berbasis bukti ilmiah untuk memperbaiki sistem pencernaan, mengingat senyawa kurkuminoid dalam kunyit terbukti mampu meredakan peradangan.

Lebih lanjut, Inggrid mendorong agar jamu tidak hanya diproduksi secara tradisional, tetapi juga diolah modern, berbasis riset, dan memiliki izin edar, agar manfaatnya dapat menjangkau masyarakat luas secara aman dan ilmiah.

“Jamu termasuk herbal yang sudah banyak diteliti, bahkan di luar negeri. Evidence-nya kuat sekali,” tegasnya.

Jamu Perlu Diangkat Jadi Produk Unggulan Nasional
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM, Mohamad Kashuri, menekankan bahwa jamu adalah cerminan kearifan budaya lokal yang memiliki nilai empiris dan potensi ekonomi besar.

“Jamu tidak sekadar ramuan, tetapi juga cerminan budaya yang diwariskan turun-temurun. Kini semakin banyak jurnal dan seminar ilmiah yang mengangkat jamu sebagai potensi besar obat tradisional Indonesia,” ungkap Kashuri.

Ia mendorong agar jamu terus dikembangkan menjadi produk berdaya saing tinggi, baik di pasar nasional maupun internasional. (rdr/ant)