BERITA

Tragedi Laut Andaman: 427 Pengungsi Rohingya Diduga Tewas dalam Perjalanan Mencari Perlindungan

0
×

Tragedi Laut Andaman: 427 Pengungsi Rohingya Diduga Tewas dalam Perjalanan Mencari Perlindungan

Sebarkan artikel ini
Wisatawan melihat kapal kayu yang pernah digunakan pengungsi Rohingya di Pantai Mata Ie Sepeung, Laweung, Kabupaten Pidie, Aceh, Sabtu (10/5/2025). (ANTARA FOTO/IRWANSYAH PUTRA)

JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Badan Pengungsi PBB (UNHCR) mengungkap kekhawatirannya atas tewasnya sekitar 427 warga Rohingya dalam perjalanan berbahaya di laut, saat mereka mencari perlindungan.

Laporan menyebutkan 514 Rohingya berangkat dengan dua perahu yang terpisah. Perahu pertama membawa 267 orang, sebagian besar berangkat dari kamp pengungsi di Distrik Cox’s Bazar, Bangladesh, dan sisanya dari Negara Bagian Rakhine, Myanmar. Perahu ini tenggelam pada 9 Mei, menyisakan 66 orang selamat.

Perahu kedua mengangkut 247 pengungsi Rohingya, baik dari Cox’s Bazar maupun dari Rakhine. Kapal ini terbalik pada 10 Mei, dengan 21 orang yang berhasil diselamatkan.

Bangladesh saat ini menampung lebih dari 1,3 juta Muslim Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan militer Myanmar sejak Agustus 2017.

UNHCR juga melaporkan keberadaan kapal ketiga yang membawa 188 Rohingya, yang dicegat saat meninggalkan Myanmar pada 14 Mei.

Kawasan Laut Andaman dan Teluk Benggala termasuk salah satu wilayah paling mematikan di dunia untuk perjalanan laut para pengungsi, dengan hampir satu dari lima orang yang mencoba menyeberang pada 2025 dilaporkan tewas atau hilang.

Menurut Direktur Biro Regional UNHCR Asia Pasifik, Hai Kyung Jun, “Situasi kemanusiaan yang mengerikan, diperparah oleh pemotongan dana bantuan, memaksa semakin banyak Rohingya melakukan perjalanan berbahaya demi mencari keselamatan dan kehidupan bermartabat.”

Musim hujan dengan angin kencang, hujan deras, dan gelombang besar semakin memperparah risiko perjalanan.

UNHCR menyerukan kepada otoritas wilayah dan komunitas internasional untuk segera mengambil langkah mencegah tragedi berikutnya. Menyelamatkan nyawa di laut merupakan kewajiban kemanusiaan dan hukum maritim internasional.

Badan PBB ini juga meminta dukungan finansial untuk meningkatkan kapasitas penyelamatan dan bantuan bagi pengungsi Rohingya di Bangladesh, India, Malaysia, Thailand, dan Myanmar. Saat ini, UNHCR baru menerima 30 persen dari kebutuhan dana sebesar 383,1 juta dolar AS untuk tahun 2025. (rdr/ant/anadolu)