TUAPEJAT, RADARSUMBAR.COM – Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, menggelar pelatihan pembuatan atribut tradisional Mentawai di Homestay Mapaddegat, Kecamatan Sipora Utara, sebagai upaya pelestarian warisan budaya tak benda.
Pelatihan ini menyasar sekitar 50 peserta, terdiri atas guru SD, SMP, pelaku seni, dan sanggar budaya dari wilayah Sipora. Kegiatan difokuskan pada keterampilan merangkai atribut khas seperti kalung inu, ikat kepala luat, dan aksesori tradisional lainnya.
Wakil Bupati Kepulauan Mentawai, Jakop Saguruk, saat membuka pelatihan pada Senin (20/5), menekankan bahwa pelestarian budaya harus dimulai dari kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai tradisi lokal.
“Merangkai kalung inu butuh ketenangan dan ketelitian. Di situ letak nilai seni sekaligus nilai ekonomi. Budaya ini harus diwariskan kepada generasi muda,” ujar Jakop.
Ia juga mendorong terbentuknya lembaga khusus yang menaungi pelaku seni budaya Mentawai agar pemerintah dapat lebih mudah mengalokasikan anggaran dari pusat, provinsi, maupun daerah.
Tak hanya itu, Jakop menyoroti pentingnya integrasi budaya Mentawai dalam dunia pendidikan. Ia menyebut program Budaya Mentawai (Bumen) perlu diimplementasikan dari tingkat SD hingga SMA.
“Anak-anak harus kenal dan bangga dengan budayanya. Jika sudah ada Perda, pembelajaran budaya lokal bisa masuk resmi ke kurikulum,” jelasnya.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Mentawai, Aban Barnabas, menyebut pelatihan ini bertujuan meningkatkan kapasitas guru dan pelaku seni dalam membuat atribut tradisional, agar nantinya dapat ditularkan kepada siswa di sekolah masing-masing.
“Tidak semua guru tahu cara membuat atribut tradisional. Dengan pelatihan ini, mereka bisa menjadi perpanjangan tangan dalam pelestarian budaya di sekolah,” kata Aban. (rdr/ant)






