SUMBAR

Bulog Sumbar Dorong Tanam Padi Serentak Jaga Harga Gabah dan Ketahanan Pangan

0
×

Bulog Sumbar Dorong Tanam Padi Serentak Jaga Harga Gabah dan Ketahanan Pangan

Sebarkan artikel ini
Seorang petani mengangkut gabah yang baru dipanen di salah satu areal persawahan di Kota Padang, Sumatera Barat. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)

PADANG, RADARSUMBAR.COM – Perum Bulog Wilayah Sumatera Barat (Sumbar) menyarankan pemerintah daerah bersama masyarakat, khususnya petani, untuk menerapkan pola tanam padi serentak guna menjaga stabilitas harga gabah dan ketahanan pangan.

“Idealnya kita melakukan tanam serentak agar kebutuhan dan harga gabah tetap stabil,” ujar Pemimpin Bulog Wilayah Sumbar, Darma Wijaya, di Padang, Selasa.

Ia menilai kepala daerah memiliki peran penting dalam mengedukasi petani agar musim tanam bisa diatur secara terpadu. Meski diakui, perbedaan kontur wilayah dan cuaca menjadi tantangan utama dalam pelaksanaannya.

Menurut Darma, tanam serentak bisa diatasi dengan regulasi yang jelas terkait jadwal masa tanam, sehingga memudahkan Bulog dalam memantau pasokan dari sentra produksi.

Darma juga menyampaikan bahwa selama periode serapan Februari–April 2025, Bulog telah menyerap 1.400 ton beras dan mendapat respons positif dari petani.

“Petani sangat senang dan berharap program ini terus dilanjutkan,” ujarnya.

Saat ini, stok cadangan beras di Gudang Bulog Sumbar tercatat sebanyak 16.200 ton, cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama empat bulan ke depan.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Sumbar, Ferdinal Asmin, menegaskan bahwa produksi padi di Sumbar masih dalam kondisi aman.

“Produksi rata-rata mencapai 100 ribu ton per bulan, bahkan bisa tembus 150 ribu ton saat puncak panen,” jelasnya.

Namun demikian, Ferdinal menilai peningkatan indeks pertanaman juga perlu dilakukan. Saat ini, indeks pertanaman Sumbar berada di angka 1,6, yang berarti petani melakukan panen tiga kali dalam dua tahun.

“Harapannya indeks ini bisa ditingkatkan agar produksi lebih optimal dan pasokan beras tetap terjaga, terutama untuk daerah non-sentra seperti Kepulauan Mentawai,” tutupnya. (rdr/ant)