PADANG

Kesal Sang Anak Dimintai Uang Rp500 Ribu, Pria Ini Viralkan Dugaan Pemerasan Oknum Polantas di Padang

0
×

Kesal Sang Anak Dimintai Uang Rp500 Ribu, Pria Ini Viralkan Dugaan Pemerasan Oknum Polantas di Padang

Sebarkan artikel ini
Tangkapan layar video viral terkait aksi pemerasan oknum Polantas di Padang. (dok. istimewa)
Tangkapan layar video viral terkait aksi pemerasan oknum Polantas di Padang. (dok. istimewa)

PADANG, RADARSUMBAR.COM – Diduga anaknya telah menjadi korban pemerasan oknum polisi lalulintas (Polantas) di Padang, seorang ayah menyampaikan keluh kesahnya lewat video yang diunggah ke media sosial. Video itu pun kemudian viral.

Dalam video yang diposting akun TikTok @matarakyatsumbar.id, sang ayah menyebutkan peristiwa dugaan pemerasan itu terjadi sekitar dua hari lalu.

Bermula ketika mobil yang dikendarai anaknya diberhentikan oleh dua oknum polantas karena diduga telah melakukan pelanggaran tidak memakai sabuk pengaman.

“Saya sebagai warga negara ingin mengadu, berkeluh kesah. Saya ditelepon oleh anak gadis saya yang sedang kuliah di Padang.”

“Dua hari yang lalu, ketika dia hendak mengisi BBM di dekat DPRD Sumbar, tiba-tiba dia hendak berbelok ke SPBU itu didatangi oleh polantas. Ia kemudian disuruh ke tepi.”

“Kata polantas itu, sabuk pengaman tidak dipakai. Ditanya SIM, SIM ada, ditanya STNK, STNK juga ada. Katanya mobil kamu ini harus ditinggal karena telah melanggar tidak pakai sabuk pengaman,” terangnya menceritakan peristiwa yang dialami anaknya.

Karena takut, katanya, si anak bermohon agar mobilnya tidak ditahan. Tapi oknum polantas tersebut tetap bersikeras. Hingga akhirnya oknum itu menawarkan untuk membayar sejumlah uang.

“Namanya anak gadis baru kuliah tentu takut dia. Polisi ini kemudian berkata, ‘kalau kamu tidak mau, kamu harus bayar. Berapa pak, 500. Pak saya gak punya uang, uang baru saya ambil ini buat beli bensin dan juga untuk buka puasa’,” ujarnya menirukan percakapan si anak dengan oknum polantas.

Bersamaan dengan itu, katanya, si oknum polantas tersebut meminta si anak menunjukkan surat-surat. Saat membuka dompet, oknum ini melihat beberapa lembar uang di dalam dompet si anak.

“Coba lihat STNK kamu, si anak lalu membuka dompet, nampaklah uang anak. ‘Kan ada uang kamu, kamu bilang tidak punya uang. Berapa uang kamu itu, 400 pak. Ini buat beli bensin dan buka puasa’,” tuturnya.

Setelah melihat ada uang di dalam dompet si anak, oknum polantas ini kembali menyampaikan akan menahan mobil tersebut.

“Kalau kamu gak kasih uang itu, berarti mobil kamu ditahan. Namanya anak sebesar itu, mobil ditahan padahal SNTK ada, SIM ada. Dimintalah uang Rp400 ribu itu. Bermohon anak saya ini ke polisi ini, ‘Tolong pak minimal untuk buka puasa jangan diambil semuanya pak’.”

“Udah kayak perampok oknum polisi itu. Rp400 ribu uang di dompet anak, tapi diambil juga semuanya. Dimana nurani polisi ini,” ujarnya kesal.

Ia meminta agar kasus ini menjadi perhatian dari Polri agar menindak tegas kedua oknum polantas tersebut. “Saya sebagai orangtua, dunia akhirat tidak rela. Jadi mohon, tolong bapak Kapolri ditindaklah oknum polisi seperti ini.”

“Saya juga tidak membela anak saya tidak pakai sabuk pengaman, tetap salah. Kalau memang salah karena tidak pakai sabuk ya ditilang saja, tilang surat-suratnya, STNK-nya dan jangan diminta uang sebanyak itu. Ini sengaja saya viralkan supaya oknum polisi seperti ini berubah,” tegasnya.

Menanggapi viralnya kasus ini, Kasat Lantas Polresta Padang Kompol Alfin menyampaikan apresiasi atas laporan masyarakat. Ia memastikan bahwa oknum tersebut kalau memang terbukti akan kita tindak tegas

“Saya belum bisa pastikan apakah itu anggota kami, karena pos tersebut hanya buat persimgahan anggota lantas untuk mengatur arus lalu lintas.”

“Kalau ada kemacetan anggota kesana lalu melanjutkan patroli lagi tidak ada anggota lantas yang duduk lama-lama disana,”ujarnya.

Meski demikian, pihaknya tetap akan mendalami laporan ini. Ia mengaku telah berkoordinasi dengan Propam Polresta Padang untuk mengusut tuntas kasus ini.

“Jika oknum tersebut ditemukan, kami akan menindak tegas dan memberikan sanksi berat. Kami meminta masyarakat bersabar karena kasus ini masih dalam penyelidikan,” tutupnya. (rdr)