PASAMAN

Produksi Kakao di Pasaman Meningkat, Petani Manfaatkan Harga Tinggi untuk Perluas Tanaman

1
×

Produksi Kakao di Pasaman Meningkat, Petani Manfaatkan Harga Tinggi untuk Perluas Tanaman

Sebarkan artikel ini
Tanaman kakao milik petani Hadi Irpandi (28) asal Nagari Panti Selatan, Kecamatan Panti, Kabupaten Pasaman, Sabtu (15/2/2025).ANTARA/Heri Sumarno

LUBUKSIKAPING, RADARSUMBAR.COM – Dinas Pertanian Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, mencatatkan total produksi biji kakao (Theobroma cacao) hingga triwulan IV pada 31 Desember 2024 mencapai 12.388 ton. Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Pasaman, Tjatur Supriadi, mengatakan bahwa produksi biji kakao mengalami peningkatan sejak triwulan II dan III, seiring dengan harga jual yang semakin tinggi di tingkat petani.

“Harga biji kakao yang terus naik mendorong petani untuk meningkatkan produksi sepanjang tahun 2024. Saat ini, harga biji kakao kering di tingkat petani berkisar antara Rp145.000 hingga Rp150.000 per kilogram,” ujar Tjatur.

Luas tanam kakao di Kabupaten Pasaman kini mencapai 18.838 hektare, dengan produksi rata-rata 882 kilogram per hektare. Di tengah harga yang menguntungkan, banyak petani yang memperluas area tanam kakao. “Petani sangat diuntungkan dengan harga yang tinggi,” tambahnya.

Tjatur juga mencatat bahwa jumlah Kepala Keluarga (KK) yang berprofesi sebagai petani kakao di Pasaman mencapai 17.088 KK, yang tersebar di 12 kecamatan. Kecamatan Padang Gelugur tercatat sebagai daerah dengan produksi tertinggi, mencapai 2.349 ton dari 3.021 hektare yang dikelola oleh 2.127 petani. Disusul oleh Kecamatan Rao Selatan dengan produksi 1.774 ton dari 2.492 hektare yang dikelola oleh 1.545 petani, dan Kecamatan Simpati dengan 1.653 ton dari 2.583 hektare yang dikelola oleh 2.600 petani.

Pihak Dinas Pertanian Kabupaten Pasaman terus berupaya memberikan edukasi kepada petani mengenai cara meningkatkan produksi kakao, mulai dari pemilihan bibit berkualitas, penanganan hama, hingga bantuan teknis lainnya. Mereka juga mengusulkan kepada Kementerian Pertanian untuk memberikan bantuan program, baik berupa bibit maupun peralatan pengering biji kakao, guna meningkatkan hasil produksi.

Hadi Irpandi (28), salah seorang petani kakao asal Nagari Panti Selatan, menyampaikan pentingnya penyuluhan mengenai penanganan hama, seperti tupai, ulat, dan hama lainnya yang dapat merusak tanaman dan buah kakao. “Masih banyak petani yang belum paham cara mengatasi hama, yang bisa merusak tanaman dan membuat buah kakao busuk,” kata Hadi.

Ia juga berharap agar pemerintah terus menjaga harga kakao yang saat ini menguntungkan petani, serta memberikan bantuan peralatan pengolahan biji kakao untuk mendukung produktivitas mereka. “Harga Rp150 ribu per kilogram sangat membantu kami menutupi biaya operasional,” pungkasnya. (rdr/ant)