PASAMAN BARAT

BPBD Pasaman Barat Usulkan Alat Berat untuk Percepatan Penanggulangan Bencana Alam

0
×

BPBD Pasaman Barat Usulkan Alat Berat untuk Percepatan Penanggulangan Bencana Alam

Sebarkan artikel ini
Sejumlah sarana prasarana penanggulangan bencana parkir di halaman kantor BPBD Pasaman Barat. (ANTARA/Altas Maulana).

SIMPANGEMPAT, RADARSUMBAR.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, mengungkapkan kebutuhan mendesak akan peralatan dan alat berat untuk mempercepat penanggulangan bencana alam di daerah tersebut.

“Pasaman Barat adalah salah satu daerah rawan bencana di Sumbar. Kami membutuhkan kelengkapan sarana prasarana untuk mendukung penanggulangan bencana,” kata Kepala Pelaksana BPBD Pasaman Barat, Jhon Edwar, di Simpang Empat, Minggu.

Beberapa sarana yang dibutuhkan antara lain ekskavator mini, backhoe loader, pipa hisap air, dan berbagai peralatan lainnya. Menurut Jhon, bencana alam yang sering terjadi di Pasaman Barat adalah banjir dan longsor, dan alat berat mini sangat diperlukan untuk mempercepat proses penanggulangan bencana.

Selama ini, BPBD Pasaman Barat mengandalkan alat berat dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang setempat serta provinsi saat terjadi bencana, namun jika memiliki peralatan sendiri, penanggulangan bisa dilakukan lebih cepat tanpa harus menunggu bantuan dari dinas lainnya.

“Kami mengusulkan ke BNPB untuk memiliki ekskavator mini demi mempercepat penanggulangan bencana,” lanjutnya.

Saat ini, BPBD Pasaman Barat hanya memiliki mobil operasional pick up, satu tangki air bersih, dua speed boat, pompa, dan mesin pemotong kayu. Dengan luas wilayah 3.864,02 kilometer persegi yang mencakup 11 kecamatan dan 90 nagari (desa), kelengkapan sarana prasarana kebencanaan di daerah ini harus ditingkatkan.

Jhon menjelaskan, selama 2024, kerugian akibat bencana alam di Pasaman Barat mencapai Rp3,2 miliar, dengan delapan orang meninggal dunia dan tiga lainnya terluka. Jenis bencana yang terjadi antara lain banjir, longsor, erosi, angin kencang, orang hilang, kebakaran, pohon tumbang, dan gelombang tinggi.

Bencana alam tersebut menyebabkan 444 kepala keluarga atau 519 jiwa mengungsi, serta merusak 34 unit rumah berat, sembilan unit rumah sedang, dan tiga unit rumah ringan. Sebanyak 1.460 unit rumah juga terdampak, dan lima unit rumah hanyut.

Selain itu, bencana juga menyebabkan kerusakan pada fasilitas umum, termasuk satu rumah ibadah, satu perkantoran, lima unit irigasi, dua bendungan, 11 jembatan, serta 745 meter jalan. Sektor pertanian juga terimbas, dengan kerusakan pada 123 hektare sawah dan 365 hektare perkebunan.

Pasaman Barat, yang memiliki wilayah pegunungan, dataran rendah, perbukitan, dan pantai, memang rentan terhadap berbagai jenis bencana alam. “Bencana alam yang sering terjadi di sini adalah banjir, longsor, gempa, abrasi, angin kencang, badai, dan angin puting beliung,” ujar Jhon.

Pada 2025, BPBD Pasaman Barat berencana membentuk kelompok siaga bencana di 90 nagari sebagai langkah penting dalam penanganan bencana di tingkat lokal. Selain itu, mereka juga akan meningkatkan edukasi mitigasi bencana kepada masyarakat, terutama yang tinggal di daerah pesisir. (rdr/ant)