AGAM

BKSDA Sumbar Intensifkan Pencarian Harimau Sumatera Terlibat Konflik dengan Masyarakat di Agam

0
×

BKSDA Sumbar Intensifkan Pencarian Harimau Sumatera Terlibat Konflik dengan Masyarakat di Agam

Sebarkan artikel ini
Dokter hewan mengamati seekor Harimau Sumatra setelah disuntikkan bius usai masuk ke kandang jebak pada 14 November 2024 di Kabupaten Solok, Sumatera Barat. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)

LUBUKBASUNG, RADARSUMBAR.COM – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) terus mengintensifkan pencarian seekor Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang telah memangsa ternak milik warga di Kabupaten Agam.

“Hingga hari ini, harimau tersebut belum berhasil dievakuasi petugas, namun kami terus melakukan pencarian secara intensif,” kata Kepala BKSDA Sumbar, Lugi Hartanto, di Padang, Rabu (29/1).

Menurut Lugi, petugas BKSDA telah melakukan berbagai upaya untuk mengevakuasi harimau yang dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Langkah-langkah yang dilakukan termasuk pemasangan kandang jebak, kamera jebak, dan penerbangan drone thermal untuk melacak keberadaan satwa tersebut.

Upaya ini merupakan bagian dari mitigasi yang dilakukan oleh BKSDA untuk mencegah terjadinya konflik lebih lanjut antara Harimau Sumatera dengan masyarakat sekitar, terutama di kawasan Pagadih Hilia, Nagari Pagadih, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam.

Berdasarkan hasil gambar kamera jebak yang dipasang petugas, diketahui bahwa harimau yang dicari dalam kondisi cukup memprihatinkan, dengan salah satu kaki satwa tersebut mengalami cacat.

BKSDA juga tengah mempelajari fenomena meningkatnya konflik antara Harimau Sumatera dan masyarakat di berbagai daerah, termasuk Aceh, Bengkulu, Lampung, dan Sumbar, yang terjadi dalam waktu dekat.

“Kami sedang menganalisis penyebab meningkatnya konflik harimau dalam waktu yang berdekatan ini,” tambah Lugi.

Kepala BKSDA juga mengimbau masyarakat untuk selalu waspada terhadap keberadaan harimau, karena satwa yang terancam punah tersebut dapat kembali memasuki permukiman warga dan menimbulkan potensi konflik baru. (rdr/ant)