BERITA

Pemerintah Tingkatkan Kualitas RSUD di Daerah 3T, 32 Unit Ditarget Selesai di 2025

0
×

Pemerintah Tingkatkan Kualitas RSUD di Daerah 3T, 32 Unit Ditarget Selesai di 2025

Sebarkan artikel ini
Peletakan batu pertama pengembangan RSUD Reda Bolo di Sumba Barat Daya, NTT, Jumat (17/1), merupakan wujud nyata dari dimulainya PHTC di bidang kesehatan Presiden Prabowo Subianto. Peletakan batu pertama dihadiri Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Kepala KSP A.M. Putranto. (Foto: Dok Kemenkes)
Peletakan batu pertama pengembangan RSUD Reda Bolo di Sumba Barat Daya, NTT, Jumat (17/1), merupakan wujud nyata dari dimulainya PHTC di bidang kesehatan Presiden Prabowo Subianto. Peletakan batu pertama dihadiri Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Kepala KSP A.M. Putranto. (Foto: Dok Kemenkes)

NTT, RADARSUMBAR.COM – Presiden Prabowo Subianto melalui program Quick Win bidang kesehatan memulai langkah nyata dengan meningkatkan kapasitas RSUD di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Salah satu proyek utama adalah pengembangan RSUD Reda Bolo di Sumba Barat Daya, NTT, yang ditargetkan menjadi rumah sakit tipe C pada 2025.

Hari ini (17/1), Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memimpin peletakan batu pertama pembangunan RS ini, didampingi Kepala Staf Presiden A.M. Putranto.

RSUD Reda Bolo akan memiliki fasilitas modern, termasuk ruang operasi, ICU, NICU, dan peralatan diagnostik canggih, untuk menangani kasus medis kompleks tanpa rujukan keluar daerah.

“Kini pasien di Sumba Barat Daya tak perlu lagi ke Kupang atau Jakarta untuk mendapatkan layanan kesehatan berkualitas,” ujar Menkes.

Program ini mencakup peningkatan kapasitas 66 RSUD di wilayah terpencil (3T) dengan 32 RSUD ditargetkan selesai pada 2025.

Selain infrastruktur, pemerintah juga menyediakan beasiswa untuk mencetak dokter spesialis lokal guna mengatasi kekurangan tenaga medis.

Tenaga Ahli Utama PCO, Chacha Annissa, menyampaikan, “Ini adalah bukti nyata komitmen pemerintah menghadirkan layanan kesehatan merata sesuai konstitusi.”

Proyek pembangunan RSUD Reda Bolo melibatkan penyediaan gedung tiga lantai dengan kapasitas 100 tempat tidur, ruang operasi modern, dan fasilitas ICU hingga perawatan intensif lainnya.

Dengan peningkatan ini, rumah sakit diharapkan mampu menangani pasien penyakit berat seperti kanker, jantung, dan stroke tanpa perlu rujukan ke luar daerah.

Sementara itu, Kepala Staf Presiden A.M. Putranto menegaskan bahwa upaya ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk mengurangi ketimpangan layanan kesehatan.

“Fokus kami adalah memastikan semua warga, di mana pun mereka berada, mendapatkan layanan kesehatan berkualitas,” katanya.

Tak hanya infrastruktur, perhatian juga diarahkan pada pengadaan tenaga medis, termasuk spesialis kanker, jantung, dan penyakit dalam.

Kemenkes mencatat kebutuhan dokter spesialis dasar untuk wilayah 3T mencapai 217 orang, sementara kebutuhan spesialis penyakit tertentu mencapai 392 dokter.

Melalui program beasiswa dan fellowship, pemerintah berkomitmen melahirkan tenaga medis andal dari daerah yang bersangkutan.

Di luar RSUD Reda Bolo, pemerintah juga akan meningkatkan kapasitas RSUD di Bengkulu Tengah, Pesisir Barat, Tana Tidung, Kepulauan Anambas, Halmahera Timur, Pulau Taliabu, dan Manggarai Timur.

Sebanyak 34 RSUD lainnya akan menyusul pada 2026, dengan fokus pada daerah terpencil di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas layanan kesehatan di daerah, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi tenaga medis lokal.

Dengan perbaikan menyeluruh ini, pemerintah optimis dapat mendekatkan layanan kesehatan berkualitas kepada seluruh masyarakat Indonesia. (rdr/pco)