GUNUNGSITOLI, RADARSUMBAR.COM – Data terbaru menunjukkan tingkat inflasi tahunan di Kota Gunungsitoli menjadi yang tertinggi di Sumatera Utara pada Februari 2026.
Kondisi ini mendorong Pemerintah Kota Gunungsitoli memperkuat langkah pengendalian harga melalui koordinasi lintas sektor serta pemantauan intensif terhadap perkembangan harga komoditas.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara, inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) pada Februari 2026 tercatat sebesar 4,71 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) berada pada angka 111,66.
Dari seluruh daerah di Sumatera Utara, Kota Gunungsitoli mencatat inflasi tertinggi, yakni mencapai 7,75 persen dengan IHK sebesar 115,40.
Sebaliknya, inflasi tahunan terendah terjadi di Kabupaten Karo yang berada pada angka 3,67 persen dengan IHK sebesar 111,21.
Perbedaan tingkat inflasi antarwilayah ini dipengaruhi oleh dinamika harga sejumlah komoditas utama yang menjadi penggerak inflasi di masing-masing daerah.
“Perbedaan antar daerah ini dipengaruhi oleh variasi harga komoditas utama yang menjadi penggerak inflasi,” kata Asim Saputra dalam wawancara terpisah.
Menurut Asim, dinamika inflasi di Kota Gunungsitoli juga terlihat dari pergerakan harga pada awal tahun 2026. Pada Januari 2026 saja kota tersebut sempat mencatat inflasi tahunan cukup tinggi, yakni 8,68 persen.
Namun pada periode yang sama juga terjadi deflasi secara month to month (m-to-m) sebesar 0,75 persen. Deflasi dengan angka yang sama juga tercatat pada indikator year to date di bulan tersebut.
Ia menjelaskan bahwa angka tersebut berkaitan erat dengan pergerakan Indeks Harga Konsumen pada awal tahun ini. Pada Januari 2026, inflasi tahunan Sumatera Utara tercatat sebesar 3,81 persen dengan IHK berada pada angka 111,41.
“Angka tersebut juga berkaca dari pergerakan IHK awal tahun ini, yang mana Januari lalu inflasi year on year Sumut berada dalam angka 3,81 persen dengan IHK-nya 111,41 persen,” ujar Asim.
BPS Sumatera Utara menilai perubahan angka inflasi tersebut merupakan bagian dari fluktuasi harga yang lazim terjadi setiap bulan.
Meski demikian, dinamika tersebut tetap memberikan gambaran mengenai kondisi ekonomi lokal di berbagai daerah.
“Memang fluktuasi harga, tapi memberikan indikasi pergerakan ekonomi lokal di berbagai kota maupun kabupaten,” kata Asim.
Menanggapi kondisi tersebut, Wali Kota Gunungsitoli Sowa’a Laoli menegaskan bahwa pemerintah daerah terus berupaya menekan inflasi melalui berbagai langkah strategis.
Ia menyampaikan hal itu setelah mengikuti rapat koordinasi secara daring bersama Kementerian Dalam Negeri, Selasa (3/3/2026).
Sowa’a mengatakan pemerintah kota terus mengoptimalkan koordinasi lintas sektor guna memantau perkembangan harga dan mengidentifikasi kendala distribusi yang muncul di lapangan.
“Pengendalian inflasi kami lakukan dengan memaksimalkan koordinasi lintas sektor, terutama memantau perkembangan harga serta mengidentifikasi kendala di lapangan,” kata Sowa’a.
Selain itu, pemerintah daerah juga menyiapkan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Langkah-langkah lainnya tentu kami persiapkan juga guna menjaga stabilitas ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Dalam rapat koordinasi tersebut, pemerintah pusat dan daerah juga membahas langkah konkret menjaga stabilitas harga sepanjang tahun 2026.
Forum itu turut mengevaluasi dukungan pemerintah daerah terhadap pelaksanaan Program 3 Juta Rumah serta melakukan sosialisasi penyelenggaraan Jaminan Produk Halal.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPP) Kota Gunungsitoli, Darmawan Zagoto, menilai perbedaan tingkat inflasi antarwilayah merupakan hal yang wajar, tetapi tetap perlu menjadi perhatian serius.
Ia menjelaskan bahwa kondisi geografis Gunungsitoli sebagai wilayah kepulauan membuat kota tersebut masih sangat bergantung pada distribusi barang dari luar daerah.
“Ya, tentu memengaruhi biaya transportasi laut, cuaca, dan pasokan sangat berpengaruh pada harga. Jika distribusi terganggu tentu harga cepat melonjak,” kata Darmawan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa stabilitas distribusi logistik menjadi faktor penting dalam menjaga harga barang di Kota Gunungsitoli. (rdr-tanhar)





