PADANG PARIAMAN, RADARSUMBAR.COM – Kementerian Pertanian (Kementan) RI mengucurkan anggaran Rp12,5 miliar untuk memperbaiki lahan pertanian sawah yang rusak di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar) akibat bencana hidrometeorologi yang terjadi pada November 2025.
“Ini merupakan angin segar dari upaya yang dilakukan bupati, beliau terus mencari peluang di tengah efisiensi. Ini tentu menjadi pelecut untuk dinas teknis pelaksana dalam menjalankan amanah yang telah diberikan,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Padang Pariaman Hendri Satria di Parik Malintang, Kamis.
Ia mengatakan anggaran Rp12,5 miliar tersebut disalurkan melalui dana tugas pembantuan pada Satuan Kerja XIII Provinsi Sumbar dalam bentuk program bantuan pemerintah untuk enam kegiatan.
Enam kegiatan tersebut yaitu optimalisasi lahan (Oplah) sawah non rawan bencana, rehabilitasi lahan terdampak bencana, perbaikan dam parit, irigasi perpipaan, irigasi perpompaan, dan perbaikan jaringan irigasi tersier di Padang Pariaman.
Program itu menyasar kelompok tani yang tersebar di 17 kecamatan yang ada di Padang Pariaman yang tertuang dalam petunjuk teknis yang telah ditetapkan oleh Kementan.
Ia menyebutkan salah satu kegiatan Oplah bencana yang saat ini telah masuk penetapan dan menyasar 18 kelompok tani di 9 kecamatan yaitu optimalisasi lahan rusak ringan karena sedimentasi setinggi sekitar 10 hingga 30 sentimeter dengan luas 446 hektare dan mengalami kerusakan pada jaringan irigasi tersier.
Melalui program Oplah tersebut dilakukan pengerukan sedimentasi pada lahan sawah maupun saluran irigasi tersier serta perbaikan jaringan irigasi tersier yang rusak akibat bencana.
“Perbaikan irigasi yang dilakukan memang difokuskan pada irigasi tersier, karena jaringan tersebutlah yang menjadi kewenangan Kementerian Pertanian dalam program pemulihan lahan pertanian,” katanya.
Kegiatan lainnya, lanjutnya yaitu program rehabilitasi lahan untuk sawah yang mengalami kerusakan sedang karena indikasi sedimentasi lebih tebal dengan ketinggian di atas 30 sentimeter hingga 100 sentimeter dengan minimal terdampak 5 hektare.
“Ini telah memasuki tahap penetapan kelompok tani yaitu pada 17 kelompok tani dan total luasan 198 hektare,” ujarnya.
Ia menyampaikan rencananya kegiatan optimasi lahan sawah terdampak bencana akan mulai dilaksanakan awal Maret sedangkan rehabilitasi lahan dijadwalkan dimulai setelah Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah.
Selain itu, lanjutnya sejumlah kegiatan pendukung yaitu pembangunan irigasi perpompaan, irigasi perpipaan, jaringan irigasi tersier, serta dam parit guna memastikan ketersediaan air bagi lahan pertanian akan dilaksanakan pasca-lebaran
Ia mengatakan melalui program tersebut lahan yang sebelumnya tidak dapat difungsikan pasca terdampak bencana maka dapat difungsikan kembali sehingga menjadi lahan yang produktif dan berdampak pada ketahanan pangan daerah serta perekonomian petani.
Jika pada tahap awal lahan yang direhabilitasi tersebut belum sepenuhnya dapat difungsikan sebagai sawah maka untuk sementara akan digunakan sebagai lahan komoditas lain salah satunya jagung sehingga tetap dapat mendukung aktivitas pertanian masyarakat. (rdr/ant)







