KESEHATAN

Sering Buka Puasa dengan Gorengan? Ini Risiko bagi Hati dan Jantung

2
×

Sering Buka Puasa dengan Gorengan? Ini Risiko bagi Hati dan Jantung

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi gorengan. (Foto: Ist)

JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Dietisien dari RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung, Yesi Herawati, mengingatkan kebiasaan mengonsumsi gorengan saat berbuka puasa dapat berdampak negatif pada kesehatan, terutama karena organ tubuh dipaksa bekerja keras setelah seharian berpuasa.

“Makan terlalu banyak gorengan saat berbuka atau sahur dapat memberatkan kerja organ tubuh,” kata Yesi, Sabtu.

Advertisement

Menurutnya, berbuka dengan gorengan membuat asupan lemak menjadi berlebih, apalagi jika dikonsumsi dalam jumlah banyak.

Organ pertama yang terdampak adalah hati. Kelebihan lemak akan disimpan di organ tersebut dan jika terjadi penumpukan dapat menyebabkan perlemakan hati. Kondisi ini berpotensi berkembang menjadi peradangan, sirosis, bahkan kanker hati.

Selain itu, konsumsi gorengan berlebihan juga berdampak pada jantung dan pembuluh darah. Asupan lemak tinggi dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah sehingga memicu penyumbatan pembuluh darah.

“Hal ini berisiko menyebabkan aterosklerosis dan penyakit jantung koroner,” ujarnya.

Pankreas dan empedu juga dapat terdampak akibat kelebihan lemak, yang berisiko memicu resistensi insulin dan meningkatkan kemungkinan terjadinya diabetes.

Tak hanya itu, asupan lemak berlebih dapat memberatkan kerja ginjal dan dalam jangka panjang meningkatkan risiko penyakit ginjal kronik.

Yesi menambahkan, lemak berlebih di area perut juga bisa menekan diafragma sehingga menyebabkan sesak napas. Bahkan, sistem reproduksi dapat terdampak akibat ketidakseimbangan hormon yang berujung pada penurunan kesuburan.

Berbuka dengan gorengan juga berisiko mengganggu sistem pencernaan karena saluran cerna dipaksa langsung bekerja keras setelah sekitar 12 jam berpuasa.

Pada individu dengan kelebihan berat badan atau obesitas, kebiasaan ini semakin berisiko karena dapat memperparah penumpukan lemak dalam tubuh.

“Jika terus-menerus dan tidak diimbangi asupan serat serta aktivitas fisik yang memadai, dapat meningkatkan risiko obesitas, penyakit jantung, stroke, perlemakan hati, diabetes melitus, kanker, dan penyakit lainnya,” kata Yesi.

Yesi menyarankan konsumsi gorengan maksimal dua buah per hari bagi individu dengan status gizi normal, dengan catatan tidak menambah makanan lain yang digoreng atau bersantan dalam menu harian.

Sementara bagi yang mengalami kegemukan atau obesitas, konsumsi gorengan sebaiknya dihindari. Jika ingin mengonsumsi, disarankan tidak lebih dari satu kali dalam seminggu.

Ia juga menekankan penggunaan minyak baru, bukan minyak jelantah, serta pentingnya mengimbangi dengan asupan serat dan aktivitas fisik.

Sebagai alternatif berbuka yang lebih sehat, Yesi menyarankan memulai dengan air putih, kemudian mengonsumsi takjil yang mudah dicerna dan mengandung elektrolit, seperti kurma, air kelapa, buah-buahan, atau salad buah untuk menggantikan cairan yang hilang selama berpuasa. (rdr/ant)